skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Anita Naysila
Garut, Garut/Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar

Archivo del blog

  • ► 2013 (4)
    • ► November (1)
    • ► September (1)
    • ► Juli (2)
  • ▼ 2012 (8)
    • ▼ Desember (3)
      • Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"
      • Makasih, Kalian Hebat
      • Menukar Bintang Dengan Mentari
    • ► Oktober (3)
    • ► April (1)
    • ► Maret (1)
  • ► 2011 (1)
    • ► Desember (1)

Followers

Sample Text

About

Recent Posts

My Facebook

Anita Naysila | Buat Lencana Anda

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

  • Sekilas graduasi kemaren 20/06/2013 SMAN 17 GARUT
  • Maafkan Aku Tuhan, Aku Berontak
  • Menaklukan Sifat Pemalu

Arsip Blog

  • ►  2013 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
  • ▼  2012 (8)
    • ▼  Desember (3)
      • Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"
      • Makasih, Kalian Hebat
      • Menukar Bintang Dengan Mentari
    • ►  Oktober (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  Desember (1)

Anita Naysila's note

Write, write, write :)

Selasa, 04 Desember 2012

Menukar Bintang Dengan Mentari



“sshh Ko’ masih sakit ya ?!!” Gumamku sendiri sembari merasakan sakit di punggung yang rasanya gak kuat untuk duduk ataupun berdiri dengan tegak.

Ya ! ini masih taraf biasa aja guys, dulu malah lebih parah dari ini. Pipi bengkak, mata merah dan semua badan terasa sakit saat mulai bangkit dari ranjang dan yaaaaaa.. pasti malu dong pergi sekolah mata merah  (abis nangis). Pasti bakal jadi bulan-bulanan becandaan anak-anak nih kalo kaya gini, bolos aja sehari kali ya.. tapi How about Fisika ??!! bisa mampus kalo gak ngerti L

…
Sepanjang jalan rasanya gak nyaman banget, orang-orang semua merhatiin mata aku. “Ya Allah, Malu ….!!!”

Kalo aja kemaren aku gak pulang cepet, kalo aja kemaren aku gak tanya soal masa depan, kalo aja kemaren aku gak nanya kakak aku, pasti aku gak bakal ngerasain malu kaya gini, gak bakal nangis kaya tadi malem, gak bakal kena pukul bapak, gak bakal kena bentak bapak, dan gak bakal di lempar sama mentimun …. Hmm >.<

Inilah kehidupanku, keadaan keluarga yang gak pernah stabil, rumah yang kaya kapal pecah, kakak adik yang jarang rukun, orang tua yang gak akur… Kapan ini berakhir ya Allah, aku envy liat temen-temen aku yang punya fam’s time, aku envy denger temen-temen aku yang setiap hari cerita bangga-banggain keluarga mereka, banggain kakak mereka, banggain orang tua mereka.. ayah mereka… kakak merekaaaaaaaaaaaaaaa :’(
(Astagfirullah)

…
Kejadiannya dimulai hari selasa, aku bangun pagi-pagi sekali dengan ceria dan penuh harapan “semoga hari ini amazing, tuhan” , aku langsung sembahyang, dan siap-siap untuk sekolah. Seperti biasa, di sepanjang jalan aku selalu bertemu dengan burung-burung yang rajin bernyanyi dipagi hari, melihat matahari tersenyum menyapa bumi, embun pagi yang selalu tertangkap basah bermalas-malasan di atas dedaunan, lukisan pegunungan yang berwarna biru tua, dan yang paling membuatku senang adalah, langkah-langkah kecil namun cepat dari anak-anak berseragam merah putih, mereka berlarian tertawa bahagia dengan teman-teman mereka dan memakai topi merah tutwurihandayani.

Sial, telat 5 menit ! Aku berlari bergegas menuju kelas ku yang berada di ujung, karena hari ini jam pertama pelajaran biologi, aku gak boleh telat. “Assalamu’alaikum” Ternyata bangku guru masih kosong dan teman-temanku masih banyak yang berwarawiri di dalam kelas “Syukurlah”.

Tiba-tiba datang dua orang kakak cantik memakai jas almamater, dan yaaaa.. itu teteh teteh mahasiswa yang mau promosi universitas, dan hmm… gak ada biology’s class.

Setelah lama mereka cua-cuap dihadapan kami, tanpa sadar kami tertarik dengan apa yang mereka katakana, mereka terlihat menjanjikan. “Seenggaknya aku harus masuk kesini” tanpa fikir panjang setelah bel ketiga berbunyi enam jam kemudian, aku bergegas pulang dan berlari membawa kertas biru formulir univ.X.

Setelah sampai di rumah, untungnya waktu sepertinya berpihak padaku, mamah, bapak, dan kaka ku yang paling besar sedang ada di ruang keluarga. Kaka ku yang asyik dengan sebatang rokok filternya, dan mamah+bapak yang asyik dengan nasi di hadapan mereka. “Aku pulang!” semua hanya menengok tanpa menyunggingkan senyuman padaku, yasudahlah itu sudah hal biasa, hanya ibuku yang selalu terdengar menawarkan aku makan siang.

Lalu aku mulai meminta izin pada kakaku sembari menyodorkan formulir yang sedari tadi tidak ku lepaskan dari genggaman, aku meminta izin pada kakak karena ia lebih tau masalah ini ketimbang bapak, dan ternyata kakak ku malah menolak aku untuk masuk ke universitas itu, katanya “itu semacam kursus, dasar bodoh !!” aku terbelalak, dan menyambung perkataan kakak ku dengan wajah pucat, aku meminta dia untuk menyentuh dulu formulir itu, tidak lebih, dan aku menjelaskan beberapa kalimat pada kakak ku.

Kakakku pun menerima formulir itu dan langsung melempar formulir itu hingga jauh, dan Dia langsung pergi ke arah pintu belakang. Tiba-tiba 'beletak' mentimun mendarat di kepalaku, setelah aku menengok, ternyata bapak yang melemparkan mentimun itu dan aku langsung berlari menuju kamar.

Entahlah, tidak seperti biasanya, hari itu aku ingin menangis sekencang-kencangnya, pertama karna kakak ku, dan kedua karna bapak yang tidak tau judulnya apa melemparku dengan mentimun. Kemudian akupun menangis dengan nikmatnya, tiba-tiba ada orang dari luar datang dan membuka pintu kamar, ternyata itu bapak, dengan kaget aku langsung terdiam, dan bapak sekali lagi mendorong-dorong kepalaku ke belakang dan marah-marah sambil berkata “Kamu itu susah diatur”. Oh ternyata itu alasan bapak memarahi aku, yasudahlah aku terima, tapi maaf pak aku susah diatur dibagian mana ?!

Mungkin bapak ku memperhatikan pembicaraanku dengan kakak, mungkin kesan yang beliau tangkap adalah bahwa aku memaksa untuk masuk ke Univ. itu, padahal yang sebenarnya, aku hanya meminta izin dan ingin menyampaikan alasan kenapa aku tertarik untuk masuk ke univ.itu.

Setelah selesai mendorong kepalaku, bapak ku melotot dan meninggalkan kamarku, aku sangat kaget dengan kejadian itu, huuh sudahlah..

Akupun keluar dari kamar dan lekas mencuci muka ku di kamar mandi, aku ambil handuk dan mengeringkan air yang menggenang di lekukan wajahku. Aku melihat kertas formulir yang tadi dilemparkan kakak ku, aku ambil dan secara tidak sadar aku merobek formulir itu hingga menjadi potongan-potongan kecil dan aku hanya bisa berkata dalam hati dengan kesal “Aku akan menukarkan ini dengan hal yang luar biasa” tanpa sadarpun aku tertawa, tiba-tiba bapak datang dan membawa pancingan dan memukulkan pancingan itu ke arah punggungku, lalu aku lari ke belakang rumah dan membuang potongan formulir itu di tempat sampah.

…..


Ya, inilah system yang orang tuaku pake untuk ngedidik aku dan kakak-kakak ku, system yang aku benci dan hanya membuat aku berdosa, membenci perlakuan bapak, dan membenci diriku sendiri karena banyak melakukan kesalahan.

Hmm.. gak aneh ya kalo aku jarang ngomong, aku paling susah buat bebas berekspressi karna aku selalu di hantui “takut salah”.Yasudahlah semoga ini jadi jalan terbaik buat aku, tidak masuk univ. itu, tapi masuk univ. lain dengan layak dan nantinya gak jadi pengangguran dan sampah masyarakat… (naudzubillah)


“Semoga didunia ini gak ada orang-orang lain yang ngerasain apa yang aku alamin, semoga setiap orang tua di dunia ini mengerti keadaan psikis dan psikologis anaknya, karena anak adalah titipan dari Tuhan dan harus di jaga dan di didik dengan baik, tapi bagaimanapun, aku harus ridho dengan perlakuan seperti ini, karna maksud orang tuaku baik, beliau ingin membuatku menjadi anak yang solehah, tapi mungkin sekali lagi caranya yang aku benci.”

Diposting oleh Anita Naysila di 11:14

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod