“sshh Ko’ masih sakit ya ?!!”
Gumamku sendiri sembari merasakan sakit di punggung yang rasanya gak kuat untuk
duduk ataupun berdiri dengan tegak.
Ya ! ini masih taraf biasa aja
guys, dulu malah lebih parah dari ini. Pipi bengkak, mata merah dan semua badan
terasa sakit saat mulai bangkit dari ranjang dan yaaaaaa.. pasti malu dong
pergi sekolah mata merah (abis nangis). Pasti bakal jadi bulan-bulanan
becandaan anak-anak nih kalo kaya gini, bolos aja sehari kali ya.. tapi How
about Fisika ??!! bisa mampus kalo gak ngerti L
…
Sepanjang jalan rasanya gak
nyaman banget, orang-orang semua merhatiin mata aku. “Ya Allah, Malu ….!!!”
Kalo aja kemaren aku gak pulang
cepet, kalo aja kemaren aku gak tanya soal masa depan, kalo aja kemaren aku gak
nanya kakak aku, pasti aku gak bakal ngerasain malu kaya gini, gak bakal nangis
kaya tadi malem, gak bakal kena pukul bapak, gak bakal kena bentak bapak, dan
gak bakal di lempar sama mentimun …. Hmm >.<
Inilah kehidupanku, keadaan
keluarga yang gak pernah stabil, rumah yang kaya kapal pecah, kakak adik yang
jarang rukun, orang tua yang gak akur… Kapan ini berakhir ya Allah, aku envy
liat temen-temen aku yang punya fam’s time, aku envy denger temen-temen aku
yang setiap hari cerita bangga-banggain keluarga mereka, banggain kakak mereka,
banggain orang tua mereka.. ayah mereka… kakak merekaaaaaaaaaaaaaaa :’(
(Astagfirullah)
…
Kejadiannya dimulai hari
selasa, aku bangun pagi-pagi sekali dengan ceria dan penuh harapan “semoga hari
ini amazing, tuhan” , aku langsung sembahyang, dan siap-siap untuk sekolah.
Seperti biasa, di sepanjang jalan aku selalu bertemu dengan burung-burung yang
rajin bernyanyi dipagi hari, melihat matahari tersenyum menyapa bumi, embun
pagi yang selalu tertangkap basah bermalas-malasan di atas dedaunan, lukisan
pegunungan yang berwarna biru tua, dan yang paling membuatku senang adalah,
langkah-langkah kecil namun cepat dari anak-anak berseragam merah putih, mereka
berlarian tertawa bahagia dengan teman-teman mereka dan memakai topi merah
tutwurihandayani.
Sial, telat 5 menit ! Aku
berlari bergegas menuju kelas ku yang berada di ujung, karena hari ini jam
pertama pelajaran biologi, aku gak boleh telat. “Assalamu’alaikum” Ternyata
bangku guru masih kosong dan teman-temanku masih banyak yang berwarawiri di
dalam kelas “Syukurlah”.
Tiba-tiba datang dua orang
kakak cantik memakai jas almamater, dan yaaaa.. itu teteh teteh mahasiswa yang
mau promosi universitas, dan hmm… gak ada biology’s class.
Setelah lama mereka cua-cuap
dihadapan kami, tanpa sadar kami tertarik dengan apa yang mereka katakana,
mereka terlihat menjanjikan. “Seenggaknya aku harus masuk kesini” tanpa fikir
panjang setelah bel ketiga berbunyi enam jam kemudian, aku bergegas pulang dan
berlari membawa kertas biru formulir univ.X.
Setelah sampai di rumah,
untungnya waktu sepertinya berpihak padaku, mamah, bapak, dan kaka ku yang
paling besar sedang ada di ruang keluarga. Kaka ku yang asyik dengan sebatang
rokok filternya, dan mamah+bapak yang asyik dengan nasi di hadapan mereka. “Aku
pulang!” semua hanya menengok tanpa menyunggingkan senyuman padaku, yasudahlah
itu sudah hal biasa, hanya ibuku yang selalu terdengar menawarkan aku makan
siang.
Lalu aku mulai meminta izin
pada kakaku sembari menyodorkan formulir yang sedari tadi tidak ku lepaskan
dari genggaman, aku meminta izin pada kakak karena ia lebih tau masalah ini
ketimbang bapak, dan ternyata kakak ku malah menolak aku untuk masuk ke
universitas itu, katanya “itu semacam kursus, dasar bodoh !!” aku terbelalak,
dan menyambung perkataan kakak ku dengan wajah pucat, aku meminta dia untuk
menyentuh dulu formulir itu, tidak lebih, dan aku menjelaskan beberapa kalimat
pada kakak ku.
Kakakku pun menerima formulir
itu dan langsung melempar formulir itu hingga jauh, dan Dia langsung pergi ke
arah pintu belakang. Tiba-tiba 'beletak' mentimun mendarat di kepalaku, setelah
aku menengok, ternyata bapak yang melemparkan mentimun itu dan aku langsung
berlari menuju kamar.
Entahlah, tidak seperti
biasanya, hari itu aku ingin menangis sekencang-kencangnya, pertama karna kakak
ku, dan kedua karna bapak yang tidak tau judulnya apa melemparku dengan
mentimun. Kemudian akupun menangis dengan nikmatnya, tiba-tiba ada orang dari
luar datang dan membuka pintu kamar, ternyata itu bapak, dengan kaget aku
langsung terdiam, dan bapak sekali lagi mendorong-dorong kepalaku ke belakang
dan marah-marah sambil berkata “Kamu itu susah diatur”. Oh ternyata itu alasan
bapak memarahi aku, yasudahlah aku terima, tapi maaf pak aku susah diatur
dibagian mana ?!
Mungkin bapak ku memperhatikan
pembicaraanku dengan kakak, mungkin kesan yang beliau tangkap adalah bahwa aku
memaksa untuk masuk ke Univ. itu, padahal yang sebenarnya, aku hanya meminta
izin dan ingin menyampaikan alasan kenapa aku tertarik untuk masuk ke univ.itu.
Setelah selesai mendorong
kepalaku, bapak ku melotot dan meninggalkan kamarku, aku sangat kaget dengan
kejadian itu, huuh sudahlah..
Akupun keluar dari kamar dan
lekas mencuci muka ku di kamar mandi, aku ambil handuk dan mengeringkan air
yang menggenang di lekukan wajahku. Aku melihat kertas formulir yang tadi
dilemparkan kakak ku, aku ambil dan secara tidak sadar aku merobek formulir itu
hingga menjadi potongan-potongan kecil dan aku hanya bisa berkata dalam hati
dengan kesal “Aku akan menukarkan ini dengan hal yang luar biasa” tanpa
sadarpun aku tertawa, tiba-tiba bapak datang dan membawa pancingan dan
memukulkan pancingan itu ke arah punggungku, lalu aku lari ke belakang rumah
dan membuang potongan formulir itu di tempat sampah.
…..
Ya, inilah system yang orang
tuaku pake untuk ngedidik aku dan kakak-kakak ku, system yang aku benci dan
hanya membuat aku berdosa, membenci perlakuan bapak, dan membenci diriku
sendiri karena banyak melakukan kesalahan.
Hmm.. gak aneh ya kalo aku
jarang ngomong, aku paling susah buat bebas berekspressi karna aku selalu di
hantui “takut salah”.Yasudahlah semoga ini jadi jalan terbaik buat aku, tidak
masuk univ. itu, tapi masuk univ. lain dengan layak dan nantinya gak jadi
pengangguran dan sampah masyarakat… (naudzubillah)
“Semoga didunia ini gak ada
orang-orang lain yang ngerasain apa yang aku alamin, semoga setiap orang tua di
dunia ini mengerti keadaan psikis dan psikologis anaknya, karena anak adalah
titipan dari Tuhan dan harus di jaga dan di didik dengan baik, tapi
bagaimanapun, aku harus ridho dengan perlakuan seperti ini, karna maksud orang
tuaku baik, beliau ingin membuatku menjadi anak yang solehah, tapi mungkin sekali lagi caranya yang aku benci.”

0 komentar:
Posting Komentar