skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Anita Naysila
Garut, Garut/Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Archivo del blog

  • ► 2013 (4)
    • ► November (1)
    • ► September (1)
    • ► Juli (2)
  • ▼ 2012 (8)
    • ▼ Desember (3)
      • Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"
      • Makasih, Kalian Hebat
      • Menukar Bintang Dengan Mentari
    • ► Oktober (3)
    • ► April (1)
    • ► Maret (1)
  • ► 2011 (1)
    • ► Desember (1)

Followers

Sample Text

About

Recent Posts

My Facebook

Anita Naysila | Buat Lencana Anda

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

  • Sekilas graduasi kemaren 20/06/2013 SMAN 17 GARUT
  • Maafkan Aku Tuhan, Aku Berontak
  • Menaklukan Sifat Pemalu

Arsip Blog

  • ►  2013 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
  • ▼  2012 (8)
    • ▼  Desember (3)
      • Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"
      • Makasih, Kalian Hebat
      • Menukar Bintang Dengan Mentari
    • ►  Oktober (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  Desember (1)

Anita Naysila's note

Write, write, write :)

Minggu, 16 Desember 2012

Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"


Abu Fattah. Idolaku yang tampan cetar membahana badai itu lagi-lagi melesat dihadapan mataku lagi. Abu yang tampan dan pintar bernyanyi itu sangat cool , tak salah jika setiap dia ayunkan langkah kakinya yang panjang dan badannya yang tegap itu, semua perempuan pasti terbengong dan terus memuji kekuasaan Tuhan yang sedang mereka saksikan. “Hmm.. andaikan saja dia nembak aku, pasti aku bakalan ngerasa kaya princess, tapi udahlah ! itu gak mungkin”. Aku lekas melanjutkan langkahku yang tadi sempat terpotong bayangan pangeran dari kastil mimpi itu, menuju ke perpustakaan sekolah, tiba-tiba kepalaku pusing dan semuanya buram.
*

“Kamu kenapa Ta ? tadi aku nemuin kamu tergeletak pingsan di depan kelas XI IPS 1, kamu sakit ? ”
“Aku dimana Na ?” “ini UKS Ta !!” Tanpa menghiraukan Anisa, aku langsung bangkit dari matras keras belang putih biru itu dan bergegas lari menuju kekelas, karena aku baru ingat, aku lupa memakan obat perosfat penambah darahku.
Untunglah obat berwarna merah pucat ini masih tersisa tiga tablet lagi, rasanya lega setelah meminum obat itu, rasanya badanku terasa ringan dan terasa berdarah kembali.

“Ta, kamu ko’ langsung lari ? kenapa” “Enggak Na, aku tadi lupa belum bales sms dari Anggi, HP aku ketinggalan di tas” “Huh.. syukurlah, kirain ada apa, sampe segitunya. Kamu udah baekan?” “Tenang Na, semuanya aman terkendali”. Aku menyunggingkan senyuman pada Nana dan langsung mengambil tas untuk segera pulang, sialnya aku sempat berbohong lagi, “maafin aku Ana (Anisa)”.
Sepulang sekolah, aku langsung bergegas menuju rumah, tidak pernah ada rencana di benakku untuk sekedar hang out dengan teman atau jalan-jalan menyusuri bumi keagungan Tuhan, dalam pikiranku aku hanya ingin pulang lebih awal dan melihat wajah kedua orang tuaku berseri karena melihat anaknya yang baik dan masih dapat dikendalikan orang tua. Tapi tiba – tiba , hujan sangat deras memotong langkah kakiku, sialnya aku tak dapat memaksakan kaki ku untuk menembus tirai air yang jatuh dari langit yang biru kehitaman itu. Aku tak bisa berontak karena aku memakai baju putih abu yang masih berlaku untuk dipakai besok, dan terpaksa aku diam diantara atap rumah yang menghimpit gang yang ku lalui itu.


Setelah Sembilan puluh menit kemudian, aku merasa bosan terkepung diantara rintikan air hujan yang sangat deras, aku memaksakan diri untuk pulang, karena aku baru ingat, aku mempunyai ayah yang sangat sayang kepadaku, dan pasti sangat khawatir karena aku belum juga tiba di rumah sedari tadi.


Sampailah aku dirumah dengan sekujur tubuh yang basah serta pakaian, sepatu dan tas ku pun basah. Aku membuka pintu perlahan dan … “Habis main dari mana kamu ? jam segini baru pulang!! Jangan pulang saja sekalian!!” aku terbengong dan di seret Bapak ku kearah kamar mandi, dan “Blukkk..blukk” aku hamper tidak diberi kesempatan oleh Bapak ku untuk bernafas, terus menerus wajahku diarahkan kedalam genangan air di dalam bak mandi itu, setelah aku lemas, baru tangan halus itu terlepas dari kepala dan rambutku yang rontok, dan aku dibiarkan terkapar di antara tangga yang licin dan basah itu, dan Bapak masih saja mengomel.


Tidak lama kemudian, ibuku memungutiku dari kamar mandi, “Kamu habis dari mana ?” ibu bertanya padaku, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu, karena aku lemas, aku hanya diam dengan air mata yang perlahan aku keluarkan dari kelenjar mataku, untung saja wajahku sedang basah, dan ibuku tak tahu bahwa aku sedang menangis, menangis bahagia karena aku ridho dengan apa yang aku alami tadi.
*


Tik.. tik.. detikan jarum jam yang panjang itu terus berdetik, semenit kemudian berlalu, sejam, dua jam, dan sampai lama aku hanya terdiam membisu dengan pikiran yang melayang terbang keawang-awang tanpa jasadku yang tak tahan ingin segera pulang keperaduan. Pekerjaan pokok ku sebagai pelajar mulai menumpuk dan berantakan, memang sejak aku beranjak naik ke kelas dua, aku mulai menyandang gelar pemalas dari hamper semua guru mata pelajaran, padahal ini semua tanpa ku rencanakan, ini semua aku tak pernah menginginkan. “Hmm.. sudahlah aku tak kan peduli apa kata mereka” tanpa sadar akupun menangis hingga bidadari membuaiku untuk masuk kedalam babak mimpi.


Keesokan harinya aku pergi sekolah dengan harapan yang besar, kali ini aku tak lupa meminum obat merah itu, aku harap dapat melupakan kejadian kemarin. “Hahaha kemarin itu lucu ya, bego ah ! kenapa kemaren gak ujan-ujanan aja langsung pulang, hmm nakal aku ini” aku berbicara dalam hati dengan mata bengkak dan kelopaknya tampak mengerut,dan bibir ku tersenyum geli mengingat kejadian kemarin. “Bismillahirrohmanirrohim, semoga hari ini hatiku secerah matahari dan bumi yang kutapaki” aku pun mulai menaiki angkot hitam dan duduk tenang.


Sesampainya di sekolah, aku langsung menemui temanku di kelas XII IPA 2, aku langsung menceritakan hal bodoh yang ku alami kemarin,dan temanku hanya berkata “yang sabar ya, kamu pasti kuat” sambil mengusap punggungku. Setelah aku puas bercerita, akupun langsung masuk ke kelasku karena kebetulan bel masuk sudah berbunyi.


Ternyata guru mata pelajaran pertama tidak masuk, beliau sakit dan tugaslah yang saat ini ada dihadapanku, dengan rasa tidak penuh semangat, aku lagi-lagi melamun dan terbengong. “Heh ! muka kamu pucet tuh ! udah petet, pucet, manyun lagi, jelek !!” suara temanku bernama Basit menyengat telinga kecilku “Hoh” aku membalas dengan melotot, “eh, jangan ngelamun, entar cepet mati loh ! oh iya, kamu gak tau kan, lima hari kebelakang aku beli anak ayam dari pasar warna ijo sama pink, mereka lucu banget, aku kasih nama Anita sama Dawam, karena mereka serasi banget, tiap hari aku selalu kasi makan tuh anak ayam, dan na’as nya si Anita kebanyakan murung dan besok nya mati, padahal tiap pagi aku selalu ngajak dia buat berangkat bareng kesekolah, tapi yang selalu bikin aku kesel dia cuek gak pernah jawab ajakan aku, dan sekarang aku kangen si Alm.Anita pink, dan sekarang cuma si Dawam yang idup, hahahhahahaha ini cerita nyata yang mengharukan” Basit pun tertawa menggoda ku “Kurang ajar kamu !!” “eh ini asli, aku punya fotonya” dia tiba-tiba menyodorkan hapenya kedepan dua bola mataku dan bener, dia punya sepasang anak ayam yang lucu, dan di foto yang lainnya cuma ayam hijau yang terlihat bertengger didepan kamera hp si Basit. Akupun tertawa terbahak-bahak, sialan si Basit, pake nyamain aku sama ayam, awas deh, kalo aku nanti pelihara monyet, aku bakal namain dia Basit u’u a’a hahaha


Bel istirahat pun berbunyi, bibirku mulai pegal tertawa terbahak-bahak karena teman-teman sekelasku menggodaku, dan tugaspun telah beres ku selesaikan dan aku menyerahkan hasilnya ke Gisela temanku, karena dia ratu penyampai wahyu ..haha


Akupun bergegas lari kearah kantin, dan sesekali menengok ke kelas XI IPS 1, dan aku baru ingat dari sms tadi, Anggi tidak sekolah hari ini, yasudah lah, kantinnnnn I’m coming. Setelah sampai dikantin, aku mulai merobek better dari gantungan nya, dan lagi-lagi tidak sengaja aku melihat sosok pria tampan cetar membahana badai di depan gantungan better yang ku robek, ya Tuhan.. Aku mohon jauhkan dia, dia terlalu istimewa untuk nyangkrung di hadapan dua bola mataku yang rasanya tak bernafsu untuk berkedip ini… Tapi ternyata, apa yang terjadi ?! Dia malah senyum sama aku, ya Allah ini parah, ini pertama kali dia senyum kepadaku, rasanya aku baru saja dihinggapi kupu-kupu terindah di alam jagad raya ini, badanku langsung panas, dengan pipi memerah,aku langsung pergi bercampur senang dan salting kearah kelas, tiba-tiba kepalaku pusing dan semuanya hilang dari pandangan.
*


Setelah sadar, aku lagi-lagi berada di ruang UKS sekolah, lagi-lagi tempat ini seolah menjadi tempat favorit ku ketika bel pulang berdering. Aku pun pulang dengan badan lemas, dan sampai di rumah.
Lagi-lagi wajah rumahku ini terlihat sangat menyeramkan, aku selalu menghela nafas panjang ketika berada di depan gerbang tua rumah tempat aku lahir dan besar ini. Akupun lekas masuk kerumah, dan berharap tidak menemukan luka di rumah tua ini hari ini.

“Assalamualaikum” “Wa’alaikumsalam” mereka menjawab, aku sangat senang mendengar suara mereka yang berada di dalam rumah yang selalu menjawab salamku, akupun masuk dan langsung melepaskan sepatu. Ternyata ada kakak keduaku disana (laki-laki) dan aku mendapati ibuku dan bapakku sedang makan siang waktu itu.


Aku pikir ini kesempatan yang baik, aku sudah tak tahan untuk menanyakan hal ini kepada kakakku, aku ingin menanyakan tentang rencana sekolahku. “Kak, udah lulus sekolah bagusnya kemana ya? Eh iya, aku kemarin dapet brosur LP3i, boleh kakak baca” “Hhaha, dasar bodoh ! itukan bukan universitas negeri, itu semacam kursus, udah aja ikut kursus ke BLK. haha” “Tapi kak, konon kalo masuk kesini, kita gampang buat kerja” “Ah, dasar bodoh, udah gimana aku aja, kamu jangan sotoy!!” tiba-tiba kakakku melemparkan kertas brosur itu dan “pluk” mentimun hijau mendarat dijidatku, ternyata Bapak yang melempar mentimun itu, akupun lekas masuk ke kamar.


Dikamar, tak tahu kenapa, aku tak bisa menahan tangis yang sedari tadi memang sudah memaksa untuk keluar dari mata ini, akupun tak sadar menangis dengan tersedu-sedu, tiba-tiba Bapakku membuka pintu kamar dan mendorong-dorong kepalaku kearah dinding kamar. “Kamu itu keras kepala, kalo diomongin sama yang gede jangan ngelawan, jangan kuliah aja sekalian” akupun langsung berhenti menangis dan terbengong, “aku keras kepala dibagian mana ya ?” tetapi bapakku terus mendorong kepalaku kedinding oranye itu, akupun lagi-lagi mulai lemas, dan semua tampak buram.


Beberapa jam kemudian, aku mulai tersadar dengan sendirinya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.07 ini sudah malam, padahal tadi baru jam tiga siang. Wah, lagi-lagi aku melewati beberapa jam di hidupku yang seharusnya aku gunakan untuk belajar, membantu ibu dan sebagainya, dan sekali lagi aku bodoh.


Aku merasa tertekan dengan apa yang selalu aku alami. Kadang aku senang dan bisa tertawa sampai terbahak-bahak itupun jika aku bertemu dengan teman-teman di sekolah, tetapi saat aku sampai rumah, aku malah tak bisa merasakan hal itu. Hmmm…Tuhan ini memang adil, menghadirkan kebahagiaan saat elegy berputar diatas gumpalan hati dan berotasi diatas kepala. Tapi siapa orang yang tak ingin merasakan kebahagiaan entah itu siang atau malam. Hmm.. sudahlah, malam ini harusnya aku enjoy saja dengan secangkir bintang di kehangatan malam dan bermimpi indah bersama Abu pangeran mimpi yang selalu siap menjemputku saat gelap melahap bulan  bukan nya merasa pusing dan melihat dunia lagi-lagi terlihat buram hilang ditelan kegelapan.***


(*cerita ini realita yang ditambah sedikit ke-lebay-an) :D

Diposting oleh Anita Naysila di 15:47 0 komentar

Selasa, 04 Desember 2012

Makasih, Kalian Hebat


Hari ini hari yang cerah banget, seperti biasa suara burung pasti gak pernah absen buat ngiringin lagu semangat pagi..

Hari ini aku pengen banget nulis-nulis gak jelas, hehe hari ini aku payah, gak bisa sekolah dan ketawa bareng-bareng sama temen temen di sekolah, ternyata diem di rumah itu bĂȘte ya, malu juga L

Nulis apa yaaa ???. Oh iya aku Cuma mau bilang makasih nih,

Yang pertama makasih buat Allah, Tuhan Yang Maha Esa atas semua kebesaran Nya.
Makasih buat mamah yang selalu ikhlas buat ngedidik dan ngeGEDE-in aku sampe saat ini dan maaf aku suka ngebantah mamah, padahal aku punya mamah super duper baik se-dunia akhirat,
Makasih buat bapak yang selalu ngasih aku air doa dan bikin aku sadar bahwa bapak adalah bapak yang terbaik yang Allah kasih,
Makasih buat  kakak-kakak kandung aku, Teh Yani yang cerewet yang suka ngasih aku nasi goreng dan susu tiap pagi, A Zenal yang gak pernah absen buat ngedidik aku, Teh Ista yang baik dan selalu cerewet saat aku injek-injek lantai yang lagi dia pel, dan A Aam yang selalu gendokin aku, kasih aku uang recehan buat jajan dan marah saat aku ngoprek barang-barang dia, kalian kakak-kakak yang hebat J

Makasih buat Ira, dan makasih juga buat Ervin yang selalu ajarin aku pengalaman yang inspiratif, gak bosen dengerin aku, dan selalu ngingetin aku bahwa aku gak boleh lupa gosok gigi,
Makasih buat semua ponakan aku yang lucu-lucu dan ismail yang belum bisa mecahin pembagian,
Makasih buat A Acep yang aku anggep bapak kedua dari kecil, dan makasih atas semua perhatian nya sama aku dan kasih pandangan-pandangan positif buat aku,
Makasih buat Anggi Santoso yang setia nemenin aku, ngasih kesempatan buat aku mencoba segala hal, buat mataku terbuka pada segala hal positif dan selalu bawel saat lagi ceramah, hehe
Makasih buat SEA yang selalu ngehibur aku yang lagi murukusunu,
Makasih buat Neng Citot yang selalu ngedengerin curhat dan ngertiin aku, “kalo udah bisa maen gitarnya, ajarin aku hey !”
Makasih buat Lilian Ochy yang riweuh membahana badai,
Makasih buat Ade Rina & Ineu yang selalu care sama aku,
Makasih buat Siti Amelia, Irma, Winda, Anisa yang selalu ketawa saat aku ngelucu,
Makasih buat Liga dan Ahmad yang jarang banget keliatan semangat belajar,
Makasih buat XII IPA 3 yang rame banget,buat Ceu Haji anisah dan cecep yang lucu, chep cony yang selalu bikin kelas wangi, andri yang selalu sadar buat ngerjain tugas, sani yang baik banget mau bersihin darah aku, dede yang selalu ngasih tau kerjaan aku yang salah dan makasih buat basit yang udah piara anak ayam yang dikasih nama Anita, kalian gokil :D

Makasih buat XI IPA 1 (Sapazi) yang selalu bikin aku SALUT, dan GANK CHIBI yang bisa bikin aku sadar bahwa aku kamseupay banget,
Makasih buat XC (Anjuhlas) yang gokil-gokil,
Makasih buat anak-anak Fayassie Queen yang setia jadi sahabat aku, Siti, Ulay, Susi, Ira, dan Fatim yang selalu istimewa, dan anak-anak abstrak yang selalu keren di mata aku,
Makasih buat IX D yang selalu bikin ngakak karna ada si Egi, Wawan, Ihsan, Arip, Fathan, Ceng Jaja dan selalu bikin semangat karna ada Siska,Ineu, Euis, Yati, Nina, Fitri, Silvia, Tia 1, Tia 2, de el el
Makasih buat anak-anak masa SD yang selalu ngajakin aku petik jambu, makan ciwang pas istirahat dan maen bekle+sapintrong,

Makasih buat A Aziz yang selalu khawatir dan cemas sama keadaan aku,
Makasih buat A Sefty yang cerewet, ngangenin, cuek, dan bikin aku ngerasa punya kakak cowo baru,
Makasih buat A Deni Porenges yang selalu nanya “lagi ngapain adhe?”
Makasih buat A Wisnu buat bunga dan boneka angry bird nya, aku suka banget.cepet pacaran, nikah dan punya anak ya, malu tuh temen-temen nya udah pada nikah :D
Makasih buat A Isal yang kasih sejuta kenangan indah dan mengesankan di hidup aku dan belum bisa lupain aku (PD), cepet move-on ya J
Makasih buat A Eick yang cerewet dan selalu kecewa karna aku belum berjilbab,
Makasih buat A Rian Faozy yang selalu ngajak makan bakso tapi gak pernah jadi,
Makasih buat A Bangbang yang bikin aku malu kalo gak solawatan malem jum’at,
Makasih buat A Otang yang selalu NGEWARO Twit aku,
Makasih buat Kangmas Hadi playboy,yang selalu nelpon tapi jarang diangkat,
Makasih buat Ka Kurnia yang buat aku ikhlas di panasin sama si Milawati,
Makasih buat Dani yang koplok! Morotan wae kabeukina L
Makasih buat Yandi yang somse  gak pernah nanya,
Makasih buat A Indra dan A Ridlo yang lucu dan kadang-kadang nyambung diajak ngobrol,
Makasih buat Abu Fattah idola aku yang gak pernah tau keberadaan aku walaupun dideket mata dia,
Makasih buat Keluarga besar aku yang bikin aku sadar, bahwa aku punya keluarga besar yg hebat,
Makasih buat Alm. Mak iya yang selalu cerewet saat aku ngompol di kasur,
Makasih buat Mak iti yang suka kasih aku gorengan,rengginang dan lagenar, aku suka !!,
Makasih buat Tika Kania yang selalu bisa bikin aku ceria,
Makasih buat Ka Aris, Ka Yayu, Ka Kurnia, Ka Debi, Ka Tatang, Ka Khoer, Ka Risma, Ka Sopian, Ka Ujang, Agus Mahpudin, Zilah, dan semua anak-anak pramuka yang ngangenin banget, anak-anak pasbara juga,
Makasih buat Zilah yang selalu kasih semangat dan dorongan buat aku, dan bikin aku sadar kalo aku gak boleh sombong sama orang,
Makasih buat kakak-kakak UIN SGD Bandung pelatihan jurnalistik yang selalu berkata “Jangan nyerah De, ayo semangat !”
Makasih buat pak Bambang W. yang kasih support buat belajar dan  berkata “Terus semangat ya Nak”
Makasih buat Ayah Ayeh atas semua ilmu, masukan, motivasi, bimbingan dan keikhlasan nya yang juga kadang-kadang genit,

Makasih buat Pak Bagus yang ingetin aku bahwa aku harus pilih jawaban yang tepat,
Makasih buat semua ibu dan bapak wali kelas yang selalu sabar ngadepin aku,
Makasih buat Dr. Anggraeni yang gak pernah nyuntik aku dan selalu senyum saat aku datang,
Makasih buat orang pinter yang udah bikin obat penambah darah yang bermanfaat banget buat aku,
Makasih buat Bi Ela yang sabar ngajak aku ketawa,
Makasih buat Teh Nti yang pernah ngajarin aku beres-beres rumah,
Makasih buat Teh Helida yang percaya dan suka curhat sama aku,
Makasih buat A’Zagaw yang rajin like status fb aku,
Makasih buat Alm. Onet kucing kesayanganku yang selalu ngikutin aku dan nganterin aku sampe ke pager depan dan nungguin aku berangkat naek angkot, kucing yang baik,

Makasih buat Orang Misterius yang nelpon aku pake privat number yang kasih aku pencerahan dan motivasi buat aku terus semangat dan ngingetin aku buat  terus baik sama orang. Kapan aku bisa tau siapa kamu ya?!

Juga makasih buat mimpi-mimpi yang sudi untuk hadir di dalam imagine aku, yang selalu buat aku semangat, ceria, bahagia kadang galau, dan suatu saat nanti kalian para mimpi pengeliling hati dan otakku akan ku buat menjadi kenyataan yang membuat setiap orang terbelalak, membuat hati setiap orang bahagia dan berniat untuk meniru, tunggu aku ya mimpi-mimpi indah ku….

Dan terakhir, makasih buat semua orang yang selalu hadir di dalam kehidupan aku, orang-orang yang yang berperan jadi tokoh antagonis, protagonist, dan tritagonis di film Anita’s diary yang gak pernah ada di bioskop manapun, dan aku minta maaf pada semua orang, selama ini aku bikin kalian jengkel dengan ke o’on-an aku, maaf atas setiap kesalahan yang belum bisa aku hentikan untuk diukir di atas lembaran diary kalian, dan tolong bebaskan setiap ukiran kesalahan yang aku buat baik yang sengaja apalagi yang tidak sengaja..

Kalian orang-orang dan hal yang terhebat dan istimewa dalam hidupku…

Diposting oleh Anita Naysila di 11:20 0 komentar

Menukar Bintang Dengan Mentari



“sshh Ko’ masih sakit ya ?!!” Gumamku sendiri sembari merasakan sakit di punggung yang rasanya gak kuat untuk duduk ataupun berdiri dengan tegak.

Ya ! ini masih taraf biasa aja guys, dulu malah lebih parah dari ini. Pipi bengkak, mata merah dan semua badan terasa sakit saat mulai bangkit dari ranjang dan yaaaaaa.. pasti malu dong pergi sekolah mata merah  (abis nangis). Pasti bakal jadi bulan-bulanan becandaan anak-anak nih kalo kaya gini, bolos aja sehari kali ya.. tapi How about Fisika ??!! bisa mampus kalo gak ngerti L

…
Sepanjang jalan rasanya gak nyaman banget, orang-orang semua merhatiin mata aku. “Ya Allah, Malu ….!!!”

Kalo aja kemaren aku gak pulang cepet, kalo aja kemaren aku gak tanya soal masa depan, kalo aja kemaren aku gak nanya kakak aku, pasti aku gak bakal ngerasain malu kaya gini, gak bakal nangis kaya tadi malem, gak bakal kena pukul bapak, gak bakal kena bentak bapak, dan gak bakal di lempar sama mentimun …. Hmm >.<

Inilah kehidupanku, keadaan keluarga yang gak pernah stabil, rumah yang kaya kapal pecah, kakak adik yang jarang rukun, orang tua yang gak akur… Kapan ini berakhir ya Allah, aku envy liat temen-temen aku yang punya fam’s time, aku envy denger temen-temen aku yang setiap hari cerita bangga-banggain keluarga mereka, banggain kakak mereka, banggain orang tua mereka.. ayah mereka… kakak merekaaaaaaaaaaaaaaa :’(
(Astagfirullah)

…
Kejadiannya dimulai hari selasa, aku bangun pagi-pagi sekali dengan ceria dan penuh harapan “semoga hari ini amazing, tuhan” , aku langsung sembahyang, dan siap-siap untuk sekolah. Seperti biasa, di sepanjang jalan aku selalu bertemu dengan burung-burung yang rajin bernyanyi dipagi hari, melihat matahari tersenyum menyapa bumi, embun pagi yang selalu tertangkap basah bermalas-malasan di atas dedaunan, lukisan pegunungan yang berwarna biru tua, dan yang paling membuatku senang adalah, langkah-langkah kecil namun cepat dari anak-anak berseragam merah putih, mereka berlarian tertawa bahagia dengan teman-teman mereka dan memakai topi merah tutwurihandayani.

Sial, telat 5 menit ! Aku berlari bergegas menuju kelas ku yang berada di ujung, karena hari ini jam pertama pelajaran biologi, aku gak boleh telat. “Assalamu’alaikum” Ternyata bangku guru masih kosong dan teman-temanku masih banyak yang berwarawiri di dalam kelas “Syukurlah”.

Tiba-tiba datang dua orang kakak cantik memakai jas almamater, dan yaaaa.. itu teteh teteh mahasiswa yang mau promosi universitas, dan hmm… gak ada biology’s class.

Setelah lama mereka cua-cuap dihadapan kami, tanpa sadar kami tertarik dengan apa yang mereka katakana, mereka terlihat menjanjikan. “Seenggaknya aku harus masuk kesini” tanpa fikir panjang setelah bel ketiga berbunyi enam jam kemudian, aku bergegas pulang dan berlari membawa kertas biru formulir univ.X.

Setelah sampai di rumah, untungnya waktu sepertinya berpihak padaku, mamah, bapak, dan kaka ku yang paling besar sedang ada di ruang keluarga. Kaka ku yang asyik dengan sebatang rokok filternya, dan mamah+bapak yang asyik dengan nasi di hadapan mereka. “Aku pulang!” semua hanya menengok tanpa menyunggingkan senyuman padaku, yasudahlah itu sudah hal biasa, hanya ibuku yang selalu terdengar menawarkan aku makan siang.

Lalu aku mulai meminta izin pada kakaku sembari menyodorkan formulir yang sedari tadi tidak ku lepaskan dari genggaman, aku meminta izin pada kakak karena ia lebih tau masalah ini ketimbang bapak, dan ternyata kakak ku malah menolak aku untuk masuk ke universitas itu, katanya “itu semacam kursus, dasar bodoh !!” aku terbelalak, dan menyambung perkataan kakak ku dengan wajah pucat, aku meminta dia untuk menyentuh dulu formulir itu, tidak lebih, dan aku menjelaskan beberapa kalimat pada kakak ku.

Kakakku pun menerima formulir itu dan langsung melempar formulir itu hingga jauh, dan Dia langsung pergi ke arah pintu belakang. Tiba-tiba 'beletak' mentimun mendarat di kepalaku, setelah aku menengok, ternyata bapak yang melemparkan mentimun itu dan aku langsung berlari menuju kamar.

Entahlah, tidak seperti biasanya, hari itu aku ingin menangis sekencang-kencangnya, pertama karna kakak ku, dan kedua karna bapak yang tidak tau judulnya apa melemparku dengan mentimun. Kemudian akupun menangis dengan nikmatnya, tiba-tiba ada orang dari luar datang dan membuka pintu kamar, ternyata itu bapak, dengan kaget aku langsung terdiam, dan bapak sekali lagi mendorong-dorong kepalaku ke belakang dan marah-marah sambil berkata “Kamu itu susah diatur”. Oh ternyata itu alasan bapak memarahi aku, yasudahlah aku terima, tapi maaf pak aku susah diatur dibagian mana ?!

Mungkin bapak ku memperhatikan pembicaraanku dengan kakak, mungkin kesan yang beliau tangkap adalah bahwa aku memaksa untuk masuk ke Univ. itu, padahal yang sebenarnya, aku hanya meminta izin dan ingin menyampaikan alasan kenapa aku tertarik untuk masuk ke univ.itu.

Setelah selesai mendorong kepalaku, bapak ku melotot dan meninggalkan kamarku, aku sangat kaget dengan kejadian itu, huuh sudahlah..

Akupun keluar dari kamar dan lekas mencuci muka ku di kamar mandi, aku ambil handuk dan mengeringkan air yang menggenang di lekukan wajahku. Aku melihat kertas formulir yang tadi dilemparkan kakak ku, aku ambil dan secara tidak sadar aku merobek formulir itu hingga menjadi potongan-potongan kecil dan aku hanya bisa berkata dalam hati dengan kesal “Aku akan menukarkan ini dengan hal yang luar biasa” tanpa sadarpun aku tertawa, tiba-tiba bapak datang dan membawa pancingan dan memukulkan pancingan itu ke arah punggungku, lalu aku lari ke belakang rumah dan membuang potongan formulir itu di tempat sampah.

…..


Ya, inilah system yang orang tuaku pake untuk ngedidik aku dan kakak-kakak ku, system yang aku benci dan hanya membuat aku berdosa, membenci perlakuan bapak, dan membenci diriku sendiri karena banyak melakukan kesalahan.

Hmm.. gak aneh ya kalo aku jarang ngomong, aku paling susah buat bebas berekspressi karna aku selalu di hantui “takut salah”.Yasudahlah semoga ini jadi jalan terbaik buat aku, tidak masuk univ. itu, tapi masuk univ. lain dengan layak dan nantinya gak jadi pengangguran dan sampah masyarakat… (naudzubillah)


“Semoga didunia ini gak ada orang-orang lain yang ngerasain apa yang aku alamin, semoga setiap orang tua di dunia ini mengerti keadaan psikis dan psikologis anaknya, karena anak adalah titipan dari Tuhan dan harus di jaga dan di didik dengan baik, tapi bagaimanapun, aku harus ridho dengan perlakuan seperti ini, karna maksud orang tuaku baik, beliau ingin membuatku menjadi anak yang solehah, tapi mungkin sekali lagi caranya yang aku benci.”

Diposting oleh Anita Naysila di 11:14 0 komentar
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod