Abu Fattah.
Idolaku yang tampan cetar membahana badai itu lagi-lagi melesat dihadapan
mataku lagi. Abu yang tampan dan pintar bernyanyi itu sangat cool , tak salah jika setiap dia ayunkan
langkah kakinya yang panjang dan badannya yang tegap itu, semua perempuan pasti
terbengong dan terus memuji kekuasaan Tuhan yang sedang mereka saksikan. “Hmm..
andaikan saja dia nembak aku, pasti aku bakalan ngerasa kaya princess, tapi udahlah ! itu gak
mungkin”. Aku lekas melanjutkan langkahku yang tadi sempat terpotong bayangan
pangeran dari kastil mimpi itu, menuju ke perpustakaan sekolah, tiba-tiba
kepalaku pusing dan semuanya buram.
*
“Kamu kenapa
Ta ? tadi aku nemuin kamu tergeletak pingsan di depan kelas XI IPS 1, kamu
sakit ? ”
“Aku dimana Na ?” “ini UKS Ta !!” Tanpa menghiraukan Anisa, aku langsung bangkit dari matras keras belang putih biru itu dan bergegas lari menuju kekelas, karena aku baru ingat, aku lupa memakan obat perosfat penambah darahku.
“Aku dimana Na ?” “ini UKS Ta !!” Tanpa menghiraukan Anisa, aku langsung bangkit dari matras keras belang putih biru itu dan bergegas lari menuju kekelas, karena aku baru ingat, aku lupa memakan obat perosfat penambah darahku.
Untunglah
obat berwarna merah pucat ini masih tersisa tiga tablet lagi, rasanya lega
setelah meminum obat itu, rasanya badanku terasa ringan dan terasa berdarah
kembali.
“Ta, kamu ko’ langsung lari ? kenapa” “Enggak Na, aku tadi lupa belum bales sms dari Anggi, HP aku ketinggalan di tas” “Huh.. syukurlah, kirain ada apa, sampe segitunya. Kamu udah baekan?” “Tenang Na, semuanya aman terkendali”. Aku menyunggingkan senyuman pada Nana dan langsung mengambil tas untuk segera pulang, sialnya aku sempat berbohong lagi, “maafin aku Ana (Anisa)”.
Sepulang
sekolah, aku langsung bergegas menuju rumah, tidak pernah ada rencana di
benakku untuk sekedar hang out dengan
teman atau jalan-jalan menyusuri bumi keagungan Tuhan, dalam pikiranku aku
hanya ingin pulang lebih awal dan melihat wajah kedua orang tuaku berseri
karena melihat anaknya yang baik dan masih dapat dikendalikan orang tua. Tapi
tiba – tiba , hujan sangat deras memotong langkah kakiku, sialnya aku tak dapat
memaksakan kaki ku untuk menembus tirai air yang jatuh dari langit yang biru kehitaman
itu. Aku tak bisa berontak karena aku memakai baju putih abu yang masih berlaku
untuk dipakai besok, dan terpaksa aku diam diantara atap rumah yang menghimpit
gang yang ku lalui itu.
Setelah
Sembilan puluh menit kemudian, aku merasa bosan terkepung diantara rintikan air
hujan yang sangat deras, aku memaksakan diri untuk pulang, karena aku baru
ingat, aku mempunyai ayah yang sangat sayang kepadaku, dan pasti sangat
khawatir karena aku belum juga tiba di rumah sedari tadi.
Sampailah
aku dirumah dengan sekujur tubuh yang basah serta pakaian, sepatu dan tas ku
pun basah. Aku membuka pintu perlahan dan … “Habis main dari mana kamu ? jam
segini baru pulang!! Jangan pulang saja sekalian!!” aku terbengong dan di seret
Bapak ku kearah kamar mandi, dan “Blukkk..blukk” aku hamper tidak diberi
kesempatan oleh Bapak ku untuk bernafas, terus menerus wajahku diarahkan
kedalam genangan air di dalam bak mandi itu, setelah aku lemas, baru tangan
halus itu terlepas dari kepala dan rambutku yang rontok, dan aku dibiarkan
terkapar di antara tangga yang licin dan basah itu, dan Bapak masih saja
mengomel.
Tidak lama
kemudian, ibuku memungutiku dari kamar mandi, “Kamu habis dari mana ?” ibu
bertanya padaku, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu, karena aku lemas,
aku hanya diam dengan air mata yang perlahan aku keluarkan dari kelenjar
mataku, untung saja wajahku sedang basah, dan ibuku tak tahu bahwa aku sedang
menangis, menangis bahagia karena aku ridho dengan apa yang aku alami tadi.
*
Tik.. tik..
detikan jarum jam yang panjang itu terus berdetik, semenit kemudian berlalu,
sejam, dua jam, dan sampai lama aku hanya terdiam membisu dengan pikiran yang
melayang terbang keawang-awang tanpa jasadku yang tak tahan ingin segera pulang
keperaduan. Pekerjaan pokok ku sebagai pelajar mulai menumpuk dan berantakan, memang
sejak aku beranjak naik ke kelas dua, aku mulai menyandang gelar pemalas dari
hamper semua guru mata pelajaran, padahal ini semua tanpa ku rencanakan, ini
semua aku tak pernah menginginkan. “Hmm.. sudahlah aku tak kan peduli apa kata
mereka” tanpa sadar akupun menangis hingga bidadari membuaiku untuk masuk
kedalam babak mimpi.
Keesokan
harinya aku pergi sekolah dengan harapan yang besar, kali ini aku tak lupa
meminum obat merah itu, aku harap dapat melupakan kejadian kemarin. “Hahaha
kemarin itu lucu ya, bego ah ! kenapa kemaren gak ujan-ujanan aja langsung
pulang, hmm nakal aku ini” aku berbicara dalam hati dengan mata bengkak dan
kelopaknya tampak mengerut,dan bibir ku tersenyum geli mengingat kejadian
kemarin. “Bismillahirrohmanirrohim, semoga hari ini hatiku secerah matahari dan
bumi yang kutapaki” aku pun mulai menaiki angkot hitam dan duduk tenang.
Sesampainya
di sekolah, aku langsung menemui temanku di kelas XII IPA 2, aku langsung
menceritakan hal bodoh yang ku alami kemarin,dan temanku hanya berkata “yang
sabar ya, kamu pasti kuat” sambil mengusap punggungku. Setelah aku puas
bercerita, akupun langsung masuk ke kelasku karena kebetulan bel masuk sudah
berbunyi.
Ternyata
guru mata pelajaran pertama tidak masuk, beliau sakit dan tugaslah yang saat
ini ada dihadapanku, dengan rasa tidak penuh semangat, aku lagi-lagi melamun
dan terbengong. “Heh ! muka kamu pucet tuh ! udah petet, pucet, manyun lagi,
jelek !!” suara temanku bernama Basit menyengat telinga kecilku “Hoh” aku
membalas dengan melotot, “eh, jangan ngelamun, entar cepet mati loh ! oh iya,
kamu gak tau kan, lima hari kebelakang aku beli anak ayam dari pasar warna ijo
sama pink, mereka lucu banget, aku kasih nama Anita sama Dawam, karena mereka
serasi banget, tiap hari aku selalu kasi makan tuh anak ayam, dan na’as nya si
Anita kebanyakan murung dan besok nya mati, padahal tiap pagi aku selalu ngajak
dia buat berangkat bareng kesekolah, tapi yang selalu bikin aku kesel dia cuek
gak pernah jawab ajakan aku, dan sekarang aku kangen si Alm.Anita pink, dan
sekarang cuma si Dawam yang idup, hahahhahahaha ini cerita nyata yang
mengharukan” Basit pun tertawa menggoda ku “Kurang ajar kamu !!” “eh ini asli,
aku punya fotonya” dia tiba-tiba menyodorkan hapenya kedepan dua bola mataku
dan bener, dia punya sepasang anak ayam yang lucu, dan di foto yang lainnya
cuma ayam hijau yang terlihat bertengger didepan kamera hp si Basit. Akupun
tertawa terbahak-bahak, sialan si Basit, pake nyamain aku sama ayam, awas deh,
kalo aku nanti pelihara monyet, aku bakal namain dia Basit u’u a’a hahaha
Bel
istirahat pun berbunyi, bibirku mulai pegal tertawa terbahak-bahak karena
teman-teman sekelasku menggodaku, dan tugaspun telah beres ku selesaikan dan
aku menyerahkan hasilnya ke Gisela temanku, karena dia ratu penyampai wahyu
..haha
Akupun
bergegas lari kearah kantin, dan sesekali menengok ke kelas XI IPS 1, dan aku
baru ingat dari sms tadi, Anggi tidak sekolah hari ini, yasudah lah, kantinnnnn
I’m coming. Setelah sampai dikantin,
aku mulai merobek better dari
gantungan nya, dan lagi-lagi tidak sengaja aku melihat sosok pria tampan cetar
membahana badai di depan gantungan better
yang ku robek, ya Tuhan.. Aku mohon jauhkan dia, dia terlalu istimewa untuk
nyangkrung di hadapan dua bola mataku yang rasanya tak bernafsu untuk berkedip
ini… Tapi ternyata, apa yang terjadi ?! Dia malah senyum sama aku, ya Allah ini
parah, ini pertama kali dia senyum kepadaku, rasanya aku baru saja dihinggapi
kupu-kupu terindah di alam jagad raya ini, badanku langsung panas, dengan pipi
memerah,aku langsung pergi bercampur senang dan salting kearah kelas, tiba-tiba
kepalaku pusing dan semuanya hilang dari pandangan.
*
Setelah
sadar, aku lagi-lagi berada di ruang UKS sekolah, lagi-lagi tempat ini seolah
menjadi tempat favorit ku ketika bel pulang berdering. Aku pun pulang dengan
badan lemas, dan sampai di rumah.
Lagi-lagi
wajah rumahku ini terlihat sangat menyeramkan, aku selalu menghela nafas panjang
ketika berada di depan gerbang tua rumah tempat aku lahir dan besar ini. Akupun
lekas masuk kerumah, dan berharap tidak menemukan luka di rumah tua ini hari
ini.
“Assalamualaikum”
“Wa’alaikumsalam” mereka menjawab, aku sangat senang mendengar suara mereka
yang berada di dalam rumah yang selalu menjawab salamku, akupun masuk dan
langsung melepaskan sepatu. Ternyata ada kakak keduaku disana (laki-laki) dan
aku mendapati ibuku dan bapakku sedang makan siang waktu itu.
Aku pikir
ini kesempatan yang baik, aku sudah tak tahan untuk menanyakan hal ini kepada
kakakku, aku ingin menanyakan tentang rencana sekolahku. “Kak, udah lulus
sekolah bagusnya kemana ya? Eh iya, aku kemarin dapet brosur LP3i, boleh kakak
baca” “Hhaha, dasar bodoh ! itukan bukan universitas negeri, itu semacam
kursus, udah aja ikut kursus ke BLK. haha” “Tapi kak, konon kalo masuk kesini,
kita gampang buat kerja” “Ah, dasar bodoh, udah gimana aku aja, kamu jangan
sotoy!!” tiba-tiba kakakku melemparkan kertas brosur itu dan “pluk” mentimun hijau
mendarat dijidatku, ternyata Bapak yang melempar mentimun itu, akupun lekas
masuk ke kamar.
Dikamar, tak
tahu kenapa, aku tak bisa menahan tangis yang sedari tadi memang sudah memaksa
untuk keluar dari mata ini, akupun tak sadar menangis dengan tersedu-sedu,
tiba-tiba Bapakku membuka pintu kamar dan mendorong-dorong kepalaku kearah
dinding kamar. “Kamu itu keras kepala, kalo diomongin sama yang gede jangan
ngelawan, jangan kuliah aja sekalian” akupun langsung berhenti menangis dan
terbengong, “aku keras kepala dibagian mana ya ?” tetapi bapakku terus
mendorong kepalaku kedinding oranye itu, akupun lagi-lagi mulai lemas, dan
semua tampak buram.
Beberapa jam
kemudian, aku mulai tersadar dengan sendirinya, tak terasa waktu sudah
menunjukkan pukul 21.07 ini sudah malam, padahal tadi baru jam tiga siang. Wah,
lagi-lagi aku melewati beberapa jam di hidupku yang seharusnya aku gunakan
untuk belajar, membantu ibu dan sebagainya, dan sekali lagi aku bodoh.
Aku merasa
tertekan dengan apa yang selalu aku alami. Kadang aku senang dan bisa tertawa
sampai terbahak-bahak itupun jika aku bertemu dengan teman-teman di sekolah,
tetapi saat aku sampai rumah, aku malah tak bisa merasakan hal itu. Hmmm…Tuhan
ini memang adil, menghadirkan kebahagiaan saat elegy berputar diatas gumpalan
hati dan berotasi diatas kepala. Tapi siapa orang yang tak ingin merasakan
kebahagiaan entah itu siang atau malam. Hmm.. sudahlah, malam ini harusnya aku
enjoy saja dengan secangkir bintang di kehangatan malam dan bermimpi indah
bersama Abu pangeran mimpi yang selalu siap menjemputku saat gelap melahap
bulan bukan nya merasa pusing dan
melihat dunia lagi-lagi terlihat buram hilang ditelan kegelapan.***
(*cerita ini realita yang ditambah sedikit ke-lebay-an) :D
(*cerita ini realita yang ditambah sedikit ke-lebay-an) :D

0 komentar:
Posting Komentar