skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Anita Naysila
Garut, Garut/Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Komentar
    Atom
Komentar

Archivo del blog

  • ► 2013 (4)
    • ► November (1)
    • ► September (1)
    • ► Juli (2)
  • ▼ 2012 (8)
    • ▼ Desember (3)
      • Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"
      • Makasih, Kalian Hebat
      • Menukar Bintang Dengan Mentari
    • ► Oktober (3)
    • ► April (1)
    • ► Maret (1)
  • ► 2011 (1)
    • ► Desember (1)

Followers

Sample Text

About

Recent Posts

My Facebook

Anita Naysila | Buat Lencana Anda

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

  • Sekilas graduasi kemaren 20/06/2013 SMAN 17 GARUT
  • Maafkan Aku Tuhan, Aku Berontak
  • Menaklukan Sifat Pemalu

Arsip Blog

  • ►  2013 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
  • ▼  2012 (8)
    • ▼  Desember (3)
      • Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"
      • Makasih, Kalian Hebat
      • Menukar Bintang Dengan Mentari
    • ►  Oktober (3)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  Desember (1)

Anita Naysila's note

Write, write, write :)

Minggu, 16 Desember 2012

Cerpen "Secangkir Bintang di Kehangatan Malam"


Abu Fattah. Idolaku yang tampan cetar membahana badai itu lagi-lagi melesat dihadapan mataku lagi. Abu yang tampan dan pintar bernyanyi itu sangat cool , tak salah jika setiap dia ayunkan langkah kakinya yang panjang dan badannya yang tegap itu, semua perempuan pasti terbengong dan terus memuji kekuasaan Tuhan yang sedang mereka saksikan. “Hmm.. andaikan saja dia nembak aku, pasti aku bakalan ngerasa kaya princess, tapi udahlah ! itu gak mungkin”. Aku lekas melanjutkan langkahku yang tadi sempat terpotong bayangan pangeran dari kastil mimpi itu, menuju ke perpustakaan sekolah, tiba-tiba kepalaku pusing dan semuanya buram.
*

“Kamu kenapa Ta ? tadi aku nemuin kamu tergeletak pingsan di depan kelas XI IPS 1, kamu sakit ? ”
“Aku dimana Na ?” “ini UKS Ta !!” Tanpa menghiraukan Anisa, aku langsung bangkit dari matras keras belang putih biru itu dan bergegas lari menuju kekelas, karena aku baru ingat, aku lupa memakan obat perosfat penambah darahku.
Untunglah obat berwarna merah pucat ini masih tersisa tiga tablet lagi, rasanya lega setelah meminum obat itu, rasanya badanku terasa ringan dan terasa berdarah kembali.

“Ta, kamu ko’ langsung lari ? kenapa” “Enggak Na, aku tadi lupa belum bales sms dari Anggi, HP aku ketinggalan di tas” “Huh.. syukurlah, kirain ada apa, sampe segitunya. Kamu udah baekan?” “Tenang Na, semuanya aman terkendali”. Aku menyunggingkan senyuman pada Nana dan langsung mengambil tas untuk segera pulang, sialnya aku sempat berbohong lagi, “maafin aku Ana (Anisa)”.
Sepulang sekolah, aku langsung bergegas menuju rumah, tidak pernah ada rencana di benakku untuk sekedar hang out dengan teman atau jalan-jalan menyusuri bumi keagungan Tuhan, dalam pikiranku aku hanya ingin pulang lebih awal dan melihat wajah kedua orang tuaku berseri karena melihat anaknya yang baik dan masih dapat dikendalikan orang tua. Tapi tiba – tiba , hujan sangat deras memotong langkah kakiku, sialnya aku tak dapat memaksakan kaki ku untuk menembus tirai air yang jatuh dari langit yang biru kehitaman itu. Aku tak bisa berontak karena aku memakai baju putih abu yang masih berlaku untuk dipakai besok, dan terpaksa aku diam diantara atap rumah yang menghimpit gang yang ku lalui itu.


Setelah Sembilan puluh menit kemudian, aku merasa bosan terkepung diantara rintikan air hujan yang sangat deras, aku memaksakan diri untuk pulang, karena aku baru ingat, aku mempunyai ayah yang sangat sayang kepadaku, dan pasti sangat khawatir karena aku belum juga tiba di rumah sedari tadi.


Sampailah aku dirumah dengan sekujur tubuh yang basah serta pakaian, sepatu dan tas ku pun basah. Aku membuka pintu perlahan dan … “Habis main dari mana kamu ? jam segini baru pulang!! Jangan pulang saja sekalian!!” aku terbengong dan di seret Bapak ku kearah kamar mandi, dan “Blukkk..blukk” aku hamper tidak diberi kesempatan oleh Bapak ku untuk bernafas, terus menerus wajahku diarahkan kedalam genangan air di dalam bak mandi itu, setelah aku lemas, baru tangan halus itu terlepas dari kepala dan rambutku yang rontok, dan aku dibiarkan terkapar di antara tangga yang licin dan basah itu, dan Bapak masih saja mengomel.


Tidak lama kemudian, ibuku memungutiku dari kamar mandi, “Kamu habis dari mana ?” ibu bertanya padaku, tapi aku tidak bisa menjawab pertanyaan ibu, karena aku lemas, aku hanya diam dengan air mata yang perlahan aku keluarkan dari kelenjar mataku, untung saja wajahku sedang basah, dan ibuku tak tahu bahwa aku sedang menangis, menangis bahagia karena aku ridho dengan apa yang aku alami tadi.
*


Tik.. tik.. detikan jarum jam yang panjang itu terus berdetik, semenit kemudian berlalu, sejam, dua jam, dan sampai lama aku hanya terdiam membisu dengan pikiran yang melayang terbang keawang-awang tanpa jasadku yang tak tahan ingin segera pulang keperaduan. Pekerjaan pokok ku sebagai pelajar mulai menumpuk dan berantakan, memang sejak aku beranjak naik ke kelas dua, aku mulai menyandang gelar pemalas dari hamper semua guru mata pelajaran, padahal ini semua tanpa ku rencanakan, ini semua aku tak pernah menginginkan. “Hmm.. sudahlah aku tak kan peduli apa kata mereka” tanpa sadar akupun menangis hingga bidadari membuaiku untuk masuk kedalam babak mimpi.


Keesokan harinya aku pergi sekolah dengan harapan yang besar, kali ini aku tak lupa meminum obat merah itu, aku harap dapat melupakan kejadian kemarin. “Hahaha kemarin itu lucu ya, bego ah ! kenapa kemaren gak ujan-ujanan aja langsung pulang, hmm nakal aku ini” aku berbicara dalam hati dengan mata bengkak dan kelopaknya tampak mengerut,dan bibir ku tersenyum geli mengingat kejadian kemarin. “Bismillahirrohmanirrohim, semoga hari ini hatiku secerah matahari dan bumi yang kutapaki” aku pun mulai menaiki angkot hitam dan duduk tenang.


Sesampainya di sekolah, aku langsung menemui temanku di kelas XII IPA 2, aku langsung menceritakan hal bodoh yang ku alami kemarin,dan temanku hanya berkata “yang sabar ya, kamu pasti kuat” sambil mengusap punggungku. Setelah aku puas bercerita, akupun langsung masuk ke kelasku karena kebetulan bel masuk sudah berbunyi.


Ternyata guru mata pelajaran pertama tidak masuk, beliau sakit dan tugaslah yang saat ini ada dihadapanku, dengan rasa tidak penuh semangat, aku lagi-lagi melamun dan terbengong. “Heh ! muka kamu pucet tuh ! udah petet, pucet, manyun lagi, jelek !!” suara temanku bernama Basit menyengat telinga kecilku “Hoh” aku membalas dengan melotot, “eh, jangan ngelamun, entar cepet mati loh ! oh iya, kamu gak tau kan, lima hari kebelakang aku beli anak ayam dari pasar warna ijo sama pink, mereka lucu banget, aku kasih nama Anita sama Dawam, karena mereka serasi banget, tiap hari aku selalu kasi makan tuh anak ayam, dan na’as nya si Anita kebanyakan murung dan besok nya mati, padahal tiap pagi aku selalu ngajak dia buat berangkat bareng kesekolah, tapi yang selalu bikin aku kesel dia cuek gak pernah jawab ajakan aku, dan sekarang aku kangen si Alm.Anita pink, dan sekarang cuma si Dawam yang idup, hahahhahahaha ini cerita nyata yang mengharukan” Basit pun tertawa menggoda ku “Kurang ajar kamu !!” “eh ini asli, aku punya fotonya” dia tiba-tiba menyodorkan hapenya kedepan dua bola mataku dan bener, dia punya sepasang anak ayam yang lucu, dan di foto yang lainnya cuma ayam hijau yang terlihat bertengger didepan kamera hp si Basit. Akupun tertawa terbahak-bahak, sialan si Basit, pake nyamain aku sama ayam, awas deh, kalo aku nanti pelihara monyet, aku bakal namain dia Basit u’u a’a hahaha


Bel istirahat pun berbunyi, bibirku mulai pegal tertawa terbahak-bahak karena teman-teman sekelasku menggodaku, dan tugaspun telah beres ku selesaikan dan aku menyerahkan hasilnya ke Gisela temanku, karena dia ratu penyampai wahyu ..haha


Akupun bergegas lari kearah kantin, dan sesekali menengok ke kelas XI IPS 1, dan aku baru ingat dari sms tadi, Anggi tidak sekolah hari ini, yasudah lah, kantinnnnn I’m coming. Setelah sampai dikantin, aku mulai merobek better dari gantungan nya, dan lagi-lagi tidak sengaja aku melihat sosok pria tampan cetar membahana badai di depan gantungan better yang ku robek, ya Tuhan.. Aku mohon jauhkan dia, dia terlalu istimewa untuk nyangkrung di hadapan dua bola mataku yang rasanya tak bernafsu untuk berkedip ini… Tapi ternyata, apa yang terjadi ?! Dia malah senyum sama aku, ya Allah ini parah, ini pertama kali dia senyum kepadaku, rasanya aku baru saja dihinggapi kupu-kupu terindah di alam jagad raya ini, badanku langsung panas, dengan pipi memerah,aku langsung pergi bercampur senang dan salting kearah kelas, tiba-tiba kepalaku pusing dan semuanya hilang dari pandangan.
*


Setelah sadar, aku lagi-lagi berada di ruang UKS sekolah, lagi-lagi tempat ini seolah menjadi tempat favorit ku ketika bel pulang berdering. Aku pun pulang dengan badan lemas, dan sampai di rumah.
Lagi-lagi wajah rumahku ini terlihat sangat menyeramkan, aku selalu menghela nafas panjang ketika berada di depan gerbang tua rumah tempat aku lahir dan besar ini. Akupun lekas masuk kerumah, dan berharap tidak menemukan luka di rumah tua ini hari ini.

“Assalamualaikum” “Wa’alaikumsalam” mereka menjawab, aku sangat senang mendengar suara mereka yang berada di dalam rumah yang selalu menjawab salamku, akupun masuk dan langsung melepaskan sepatu. Ternyata ada kakak keduaku disana (laki-laki) dan aku mendapati ibuku dan bapakku sedang makan siang waktu itu.


Aku pikir ini kesempatan yang baik, aku sudah tak tahan untuk menanyakan hal ini kepada kakakku, aku ingin menanyakan tentang rencana sekolahku. “Kak, udah lulus sekolah bagusnya kemana ya? Eh iya, aku kemarin dapet brosur LP3i, boleh kakak baca” “Hhaha, dasar bodoh ! itukan bukan universitas negeri, itu semacam kursus, udah aja ikut kursus ke BLK. haha” “Tapi kak, konon kalo masuk kesini, kita gampang buat kerja” “Ah, dasar bodoh, udah gimana aku aja, kamu jangan sotoy!!” tiba-tiba kakakku melemparkan kertas brosur itu dan “pluk” mentimun hijau mendarat dijidatku, ternyata Bapak yang melempar mentimun itu, akupun lekas masuk ke kamar.


Dikamar, tak tahu kenapa, aku tak bisa menahan tangis yang sedari tadi memang sudah memaksa untuk keluar dari mata ini, akupun tak sadar menangis dengan tersedu-sedu, tiba-tiba Bapakku membuka pintu kamar dan mendorong-dorong kepalaku kearah dinding kamar. “Kamu itu keras kepala, kalo diomongin sama yang gede jangan ngelawan, jangan kuliah aja sekalian” akupun langsung berhenti menangis dan terbengong, “aku keras kepala dibagian mana ya ?” tetapi bapakku terus mendorong kepalaku kedinding oranye itu, akupun lagi-lagi mulai lemas, dan semua tampak buram.


Beberapa jam kemudian, aku mulai tersadar dengan sendirinya, tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.07 ini sudah malam, padahal tadi baru jam tiga siang. Wah, lagi-lagi aku melewati beberapa jam di hidupku yang seharusnya aku gunakan untuk belajar, membantu ibu dan sebagainya, dan sekali lagi aku bodoh.


Aku merasa tertekan dengan apa yang selalu aku alami. Kadang aku senang dan bisa tertawa sampai terbahak-bahak itupun jika aku bertemu dengan teman-teman di sekolah, tetapi saat aku sampai rumah, aku malah tak bisa merasakan hal itu. Hmmm…Tuhan ini memang adil, menghadirkan kebahagiaan saat elegy berputar diatas gumpalan hati dan berotasi diatas kepala. Tapi siapa orang yang tak ingin merasakan kebahagiaan entah itu siang atau malam. Hmm.. sudahlah, malam ini harusnya aku enjoy saja dengan secangkir bintang di kehangatan malam dan bermimpi indah bersama Abu pangeran mimpi yang selalu siap menjemputku saat gelap melahap bulan  bukan nya merasa pusing dan melihat dunia lagi-lagi terlihat buram hilang ditelan kegelapan.***


(*cerita ini realita yang ditambah sedikit ke-lebay-an) :D

Diposting oleh Anita Naysila di 15:47

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Posting Komentar (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod