skip to main | skip to sidebar

About me

Foto Saya
Anita Naysila
Garut, Garut/Jawa Barat, Indonesia
Lihat profil lengkapku

Subscribe To

Postingan
    Atom
Postingan
Semua Komentar
    Atom
Semua Komentar

Archivo del blog

  • ► 2013 (4)
    • ► November (1)
    • ► September (1)
    • ► Juli (2)
  • ▼ 2012 (8)
    • ► Desember (3)
    • ► Oktober (3)
    • ▼ April (1)
      • Sketsa Tengah Malam
    • ► Maret (1)
  • ► 2011 (1)
    • ► Desember (1)

Followers

Sample Text

About

Recent Posts

My Facebook

Anita Naysila | Buat Lencana Anda

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Entri Populer

  • Sekilas graduasi kemaren 20/06/2013 SMAN 17 GARUT
  • Maafkan Aku Tuhan, Aku Berontak
  • Menaklukan Sifat Pemalu

Arsip Blog

  • ►  2013 (4)
    • ►  November (1)
    • ►  September (1)
    • ►  Juli (2)
  • ▼  2012 (8)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Oktober (3)
    • ▼  April (1)
      • Sketsa Tengah Malam
    • ►  Maret (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  Desember (1)

Anita Naysila's note

Write, write, write :)

Senin, 30 April 2012

Sketsa Tengah Malam


Termenung dikesendirian malam , tertegun hanya melekukan garis bawah bibir dengan begitu santai nya, “malam ini adalah malamku”, tak lama  terasa sandaran kain empuk itu mulai tak kokoh lagi, seakan mengatakan “aku ini rapuh,tolong pergi dari badanku”. Malam ini, hampir tak ada  usapan angin yang nyata membelai jiwa, mereka hanya berbisik mencoba memudarkan setiap kecemasan yang menghimpit di dada.

Tiba tiba terdengar suara yang terasa tak aneh di telinga,memecah kesunyian yang sedang melanda, kotak dunia ku pun menyala, memancarkan sinar dari dalam dirinya, itu adalah suara dari salah satu akun yang pada saat itu aku panteng dan tak ku coba untuk log out, karena aku menyayangi akun sosial ku yang itu, dan hampir tak pernah kurasa sehari untuk melewatkannya.

Aku mulai membuka tanda merah yang berada di garis bawah akun kesayangan ku, setelah ku buka, aku melihat sesosok laki-laki yang kurasa tak asing untuk sepasang mataku, ternyata dia adalah teman lama ku semasa aku duduk di bangku SMP, dia adalah salah satu teman akrabku yang sering aku gandeng untuk mengantarku kearah kantor guru,dan ke suatu tempat yang didalamnya penuh dengan makanan.
Kata-kata sapaan nya yang kental yang sering ku dengar dari setiap orang yang mengenalku, dia lalu menanyakan kabar dan bagaimana keadaanku. Sebenarnya rumah tempat ia tinggal tidak jauh dari rumahku mungkin hanya satu kilo spasi antara rumahku dengan nya, hanya saja kami jarang sekali bertemu karena kesibukan dunia kami masing-masing yang sekarang ini kami geluti karena kami berbeda almamater.

Aku mulai menjawab sapaan lembutnya yang khas, tiba tiba terbukalah pintu percakapan dari jawabanku yang teritung sepele dan berbasa-basi, Ia mulai menanyakan rencana hidupku, ya, ia mulai menanyakan “kamu mau lanjut kuliah dimana?” sepenggal pertanyaan sepele, tetapi membuat isi otak ku serentak berputar mengelilingi porosnya yang kurasa tak menentu. Dengan semangat, akau mulai menjawab, dan menekan tombol tombol abjad yang biasa beradu dengan jariku. Aku menjawab bahwa aku sudah mempunyai rencana ingin melanjutkan kuliah dmana, tetapi aku belum bisa memberitahunya karena aku mempunyai alasan di dadaku, aku tak mau orang lain mengetahui impianku, aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku bisa menaiki tangga-tangga menuju impianku dengan tidak menyusahkan mereka, tetapi aku hanya menyebutkan jurusan yang aku minati padanya.

Setelah lama, ia pun membalas pertanyaanku, tapi aku merasa aneh, balasan nya memaksa bibirku untuk melekuk keatas, membuat darah ku di pause beberapa detik untuk berhenti mengaliir. Ia menjawab dengan untaian kata-kata  yang begitu menyudutkanku, saat itu aku merasa berada diujung karet sepatunya, ia berkata bahwa apa yang aku impikan itu adalah hal sampahan, aku tidak akan menemukan gawang keberhasilan dan susah menendang bola untuk mendengar kata GOAL dari penonton.

Aku terpaku begitu lama, yang ada di benakku hanyalah pertanyaan-pertanyaan tak penting “mengapa ia menjadi setinggi itu?” oh tuhan, aku tidak mengenali teman akrabku ini.

Beberapa lama kemudian, kami langsung beralih pembicaraan, dan topik kami kali ini adalah tentang dunia yang baru dua tahun kami jajaki, yaitu dunia putih abu, Lagi-lagi aku melihat ejaan-ejaan kata yang berkesan begitu melambung tinggi melewati tingginya lapisan o3. Ia membicarakan tentang keadaan sekolah elitnya yang begitu sempurna dimatanya, dan ia pun sesekali menyudutkan ku dengan membidik keadaan almamaterku yang sedang ku jejaki. Dia perlahan lahan memenuhi kotak obrolan dengan setiap bualan sempurnanya, dan aku hanya merespon perkataan nya dengan pujian-pujian tanda kekalahan sementara. Akupun mulai tak sadar berbicara kepadanya tentang puji syukur kepada tuhan atas kemalangan ku memasuki almamaterku, dia pun merasa lebih terangkat jauh dari tanah, aku hanya bisa memberikan nya tanda titik dua tutup kurung (*smile).

Ia juga menanyakan kepadaku tentang apa alasanku memilih almamaterku yang sekarang, padahal pada awalnya aku pun pernah memberanikan diri untuk memasuki sekolah elit seperti dirinya. Lagi-lagi aku hanya bisa memberikan tanda senyum padanya, dan aku mulai menjelaskan mengapa aku tak berada di sekolah elit seprti dirinya, ya karena saat itu aku tak punya banyak rupiah untuk memenuhi keberadaan ku di sekolah elit, dia pun memberikan tanda tertawa tanpa sebab.

Angin malam pun mencoba untuk mengusik keberadaan ku, aku pun sudah merasa tak nyaman berada di posisi sedangkal itu dengan hanya di temani tiupan angin, aku mulai merangkak menaiki tangga kebangkitanku, dan tak terasa perlahan hatiku mulai bangkit. Teman akrabku yang sedari tadi menemaniku dengan untaian kata perfeksionisnya mulai melambat untuk merespon pergerakanku, dan akhirnya ia berkata “aku tidur duluan”. Hmmm,,, aku pun mulai menghirup udara segar saat itu, karna sedari tadi aku merasa tidak merasakan hal  itu, dan rasanya dadaku terasa lama terhimpit batu besar . Aku tak tahu mengapa aku senang mengakhiri peracakapanku dengan teman akrabku, padahal dulu jika bertemu rasanya lidah ini tidak habis mengeluarkan kata-kata untuk ku bicarakan kepadanya, tetapi kali ini lain, sedari tadi aku hanya ingin dia lekas pergi dari tampilan akun sosial kesayanganku.

Jam menunjukan pukul 00.59, tapi anehnya aku belum merasakan ngantuk yang biasanya sudah menjemputku pada pukul 22.00, aku hanya merasakan kobaran api di dalam dadaku, tak tahu apa maksudnya, tetapi pada intinya aku ingin segera melewati jam-jam ini, aku ingin segera mengadu pada Allah tentang apa yang ku temui beberapa menit lalu, aku pun ingin segera bertemu dan mencium tangan sang mentari dan lekas ingin merubah nasibku yang menurut orang lain suram ini. Aku yakin aku bisa seprti orang-orang sukses, malah aku lebih dari bisa untuk melampaui mereka, aku hanya perlu waktu yang tepat untuk menunjukan itu pada mereka, dan pada waktunya nanti, aku hanya ingin  melihat mereka menghiasi wajah manis mereka dengan senyuman menawan.

Terimakasih teman akrabku, yang sudah membuatku kembali terbangkit dari kursi kesuramanku.
Diposting oleh Anita Naysila di 23:43 0 komentar
Postingan Lebih Baru Postingan Lama Beranda
Langganan: Postingan (Atom)

Blog Design by Gisele Jaquenod