Termenung dikesendirian malam ,
tertegun hanya melekukan garis bawah bibir dengan begitu santai nya, “malam ini
adalah malamku”, tak lama terasa
sandaran kain empuk itu mulai tak kokoh lagi, seakan mengatakan “aku ini
rapuh,tolong pergi dari badanku”. Malam ini, hampir tak ada usapan angin yang nyata membelai jiwa, mereka
hanya berbisik mencoba memudarkan setiap kecemasan yang menghimpit di dada.
Tiba tiba terdengar suara yang
terasa tak aneh di telinga,memecah kesunyian yang sedang melanda, kotak dunia
ku pun menyala, memancarkan sinar dari dalam dirinya, itu adalah suara dari
salah satu akun yang pada saat itu aku panteng
dan tak ku coba untuk log out, karena aku menyayangi akun sosial ku yang itu,
dan hampir tak pernah kurasa sehari untuk melewatkannya.
Aku mulai membuka tanda merah
yang berada di garis bawah akun kesayangan ku, setelah ku buka, aku melihat
sesosok laki-laki yang kurasa tak asing untuk sepasang mataku, ternyata dia
adalah teman lama ku semasa aku duduk di bangku SMP, dia adalah salah satu
teman akrabku yang sering aku gandeng untuk mengantarku kearah kantor guru,dan
ke suatu tempat yang didalamnya penuh dengan makanan.
Kata-kata sapaan nya yang kental
yang sering ku dengar dari setiap orang yang mengenalku, dia lalu menanyakan
kabar dan bagaimana keadaanku. Sebenarnya rumah tempat ia tinggal tidak jauh
dari rumahku mungkin hanya satu kilo spasi antara rumahku dengan nya, hanya
saja kami jarang sekali bertemu karena kesibukan dunia kami masing-masing yang
sekarang ini kami geluti karena kami berbeda almamater.
Aku mulai menjawab sapaan
lembutnya yang khas, tiba tiba terbukalah pintu percakapan dari jawabanku yang
teritung sepele dan berbasa-basi, Ia mulai menanyakan rencana hidupku, ya, ia
mulai menanyakan “kamu mau lanjut kuliah dimana?” sepenggal pertanyaan sepele,
tetapi membuat isi otak ku serentak berputar mengelilingi porosnya yang kurasa
tak menentu. Dengan semangat, akau mulai menjawab, dan menekan tombol tombol
abjad yang biasa beradu dengan jariku. Aku menjawab bahwa aku sudah mempunyai
rencana ingin melanjutkan kuliah dmana, tetapi aku belum bisa memberitahunya
karena aku mempunyai alasan di dadaku, aku tak mau orang lain mengetahui
impianku, aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku bisa menaiki tangga-tangga
menuju impianku dengan tidak menyusahkan mereka, tetapi aku hanya menyebutkan
jurusan yang aku minati padanya.
Setelah lama, ia pun membalas
pertanyaanku, tapi aku merasa aneh, balasan nya memaksa bibirku untuk melekuk
keatas, membuat darah ku di pause
beberapa detik untuk berhenti mengaliir. Ia menjawab dengan untaian kata-kata yang begitu menyudutkanku, saat itu aku merasa
berada diujung karet sepatunya, ia berkata bahwa apa yang aku impikan itu
adalah hal sampahan, aku tidak akan menemukan gawang keberhasilan dan susah
menendang bola untuk mendengar kata GOAL dari penonton.
Aku terpaku begitu lama, yang ada
di benakku hanyalah pertanyaan-pertanyaan tak penting “mengapa ia menjadi setinggi
itu?” oh tuhan, aku tidak mengenali teman akrabku ini.
Beberapa lama kemudian, kami
langsung beralih pembicaraan, dan topik kami kali ini adalah tentang dunia yang
baru dua tahun kami jajaki, yaitu dunia putih abu, Lagi-lagi aku melihat ejaan-ejaan
kata yang berkesan begitu melambung tinggi melewati tingginya lapisan o3. Ia
membicarakan tentang keadaan sekolah elitnya yang begitu sempurna dimatanya,
dan ia pun sesekali menyudutkan ku dengan membidik keadaan almamaterku yang
sedang ku jejaki. Dia perlahan lahan memenuhi kotak obrolan dengan setiap
bualan sempurnanya, dan aku hanya merespon perkataan nya dengan pujian-pujian
tanda kekalahan sementara. Akupun mulai tak sadar berbicara kepadanya tentang
puji syukur kepada tuhan atas kemalangan ku memasuki almamaterku, dia pun
merasa lebih terangkat jauh dari tanah, aku hanya bisa memberikan nya tanda
titik dua tutup kurung (*smile).
Ia juga menanyakan kepadaku
tentang apa alasanku memilih almamaterku yang sekarang, padahal pada awalnya
aku pun pernah memberanikan diri untuk memasuki sekolah elit seperti dirinya.
Lagi-lagi aku hanya bisa memberikan tanda senyum padanya, dan aku mulai
menjelaskan mengapa aku tak berada di sekolah elit seprti dirinya, ya karena
saat itu aku tak punya banyak rupiah untuk memenuhi keberadaan ku di sekolah
elit, dia pun memberikan tanda tertawa tanpa sebab.
Angin malam pun mencoba untuk
mengusik keberadaan ku, aku pun sudah merasa tak nyaman berada di posisi
sedangkal itu dengan hanya di temani tiupan angin, aku mulai merangkak menaiki
tangga kebangkitanku, dan tak terasa perlahan hatiku mulai bangkit. Teman
akrabku yang sedari tadi menemaniku dengan untaian kata perfeksionisnya mulai
melambat untuk merespon pergerakanku, dan akhirnya ia berkata “aku tidur
duluan”. Hmmm,,, aku pun mulai menghirup udara segar saat itu, karna sedari tadi
aku merasa tidak merasakan hal itu, dan
rasanya dadaku terasa lama terhimpit batu besar . Aku tak tahu mengapa aku
senang mengakhiri peracakapanku dengan teman akrabku, padahal dulu jika bertemu
rasanya lidah ini tidak habis mengeluarkan kata-kata untuk ku bicarakan
kepadanya, tetapi kali ini lain, sedari tadi aku hanya ingin dia lekas pergi
dari tampilan akun sosial kesayanganku.
Jam menunjukan pukul 00.59, tapi
anehnya aku belum merasakan ngantuk yang biasanya sudah menjemputku pada pukul
22.00, aku hanya merasakan kobaran api di dalam dadaku, tak tahu apa maksudnya,
tetapi pada intinya aku ingin segera melewati jam-jam ini, aku ingin segera
mengadu pada Allah tentang apa yang ku temui beberapa menit lalu, aku pun ingin
segera bertemu dan mencium tangan sang mentari dan lekas ingin merubah nasibku
yang menurut orang lain suram ini. Aku yakin aku bisa seprti orang-orang
sukses, malah aku lebih dari bisa untuk melampaui mereka, aku hanya perlu waktu
yang tepat untuk menunjukan itu pada mereka, dan pada waktunya nanti, aku hanya
ingin melihat mereka menghiasi wajah
manis mereka dengan senyuman menawan.
Terimakasih teman akrabku, yang sudah membuatku kembali
terbangkit dari kursi kesuramanku.

